Sabtu, 03 Oktober 2015

Perayaan Idul Ghodir Adalah Perayaan Kekufuran Pengkafiran

Oleh Ustd. Firanda Andirdja.
Ajaran Islam dan Ajaran agama Syi'ah tidak mungkin bersatu, karena kedua agama ini saling berlawanan dan bertolak belakang.

Agama Islam tidak mungkin tegak kecuali dengan meyakini bahwasanya para sahabat adalah umat terbaik, karena sumber dasar agama Islam adalah Al-Qur'an dan As-Sunnah. Dan tidak mungkin al-Qur'an dan As-Sunnah sampai kepada kita kecuali melalui jalan dan jalur periwayatan para sahabat. Jika para sahabat bukan umat terbaik dan tidak amanah maka gugurlah sumber agama Islam, dan selanjutnya gugurlah agama Islam.

Adapun agama Syi'ah…

Maka agama mereka tidak mungkin tegak kecuali dengan mengkafirkan para sahabat. Karena agama mereka dibangun di atas keimaman (yaitu meyakini dan mengimani para imam dua belas yang mereka akui). Dan imam pertama mereka adalah Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu.

Sementara penunjukan Ali sebagai imam oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah tatkala di Ghodiir Khum (suatu tempat yang terletak antara kota Mekah dan Madinah). Penunjukan dan washiat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tersebut disampaikan tatkala Nabi pulang dari haji Wadaa' dihadapan para sahabat. Lalu ternyata para sahabat kompak menyelisihi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan mengangkat Abu Bakar sebagai khalifah. Karenanya mereka mengkafirkan seluruh para sahabat yang setuju dengan pelantikan Abu Bakar sebagai khalifah, yang berarti para sahabat telah bersepakat menolak aqidah keimaman mereka, maka kafirlah para sahabat. Jadi agama Syi'ah tidak mungkin tegak kecuali dengan mengkafirkan para sahabat.

Dari sini sangatlah wajar jika di mata kaum agama Syi'ah, perayaan 'Idul Ghodir lebih utama dari pada hari raya 'Idul Fitri dan 'Idul Adlha !!!

 

Idul Ghodir Perayaan Kekufuran

Sangatlah jelas bahwa Hari Perayaan Ghodir Khum adalah hari kekufuran, karena hari Ghodir Khum di mata penganut agama Syi'ah adalah hari menjadikan keimaman sebagai rukun Islam yang paling utama. Dari keyakinan inilah timbul berbagai bentuk kekufuran, daintaranya :

Pertama : Mengangkat para imam mereka hingga pada derajat yang berlebihan, seperti meyakini bahwa para imam mereka mengetahui ilmu ghaib bahkan seluruh yang tercatat di al-Lauh al-Mahfuz juga diketahui oleh para imam mereka. Dan ini jelas merupakan kekufuran, karena telah menyatakan ada makhluk yang statusnya sama dengan Allah dalam hal ilmu ghaib.

Kedua : Meyakini bahwa al-Qur'an telah terjadi padanya perubahan dan distorsi, karena menurut agama Syi'ah seharusnya di dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang tegas menunjukkan akan aqidah keimaman mereka, akan tetapi dirubah atau disembunyikan oleh para sahabat. Dan keyakinan bahwa Allah tidak menjaga al-Qur'an adalah kekufuran. Demikian juga meyakini al-Qur'an sudah mengalami perubahan dan tidak bisa dijaga keotentikannya juga merupakan kekufuran

Ketiga : Menyatakan bahwa para imam mereka maksum (tidak mungkin salah dalam perkataan dan perbuatan). Ini merupakan kekufuran !!!. Sebab :
-         Meyakini ada tokoh yang maksum setelah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pada hakekatnya adalah mencoreng dan merusak fungsi Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagai Nabi terakhir. Sebab jika ada yang maksum setelah Nabi maka perkataan dan perbuatan orang tersebut juga merupakan syari'at yang merupakan sumber hukum baru, karena orang tersebut maksum (terjaga dari kesalahan oleh Allah).
-         Oleh karenanya coba kita tanyakan kepada kaum Syi'ah, apa perbedaan antara imam dan Nabi??. Mereka tidak akan bisa menemukan perbedaan, bahkan pernyataan-pernyataan dalam kitab-kitab mereka menunjukkan bahwa imam-imam mereka lebih afdhol daripada para nabi ??!!
-         Mencoreng kesempurnaan agama Islam yang telah Allah sempurnakan di akhir hayat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Karena dengan meyakini  bahwasanya kedua belas imam mereka maksum, maka ini melazimkan syari'at agama Islam masih belum sempurna, sehingga akan datang syari'at-syari'at baru yang diambil dari perkataan dan perbuatan para imam maksum Syi'ah.
-         Oleh karenanya, kalau agama Islam rujukan dasar hukumnya selain al-Qur'an adalah hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, adapun kaum agama Syi'ah maka rujukan mereka yang paling utama adalah perkataan-perkataan para imam mereka. Perkataan-perkataan para imam mereka menduduki kedudukan hadits-hadits Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

Keempat : Bahkan sebagian Syi'ah ada yang berani menyatakan bahwa :

-         Jibril salah dalam menurunkan wahyu, yang seharusnya kepada Ali namun Jibril 'alaihis salam menurunkannya kepada Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Keyakinan kufur ini berangkat dari aqidah pengkultusan para imam mereka
-         Nabi Muhammad telah salah karena tidak menjelaskan secara gamblang kepada para sahabat bahwa keimaman akan diwariskan kepada Ali bin Abi Tholib.

 

Idul Ghodir Perayaan Pengkafiran

Dari aqidah keimaman inilah lahirlah bentuk-bentuk pengkafiran yang membabi buta. Diantaranya :

Pertama : Pengkafiran seluruh para sahabat, kecuali hanya empat orang. Hal ini dikarenakan para sahabat telah berkhianat terhadap wasiat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam di Ghodir Khum yang menyatakan bahwa Ali adalah imam penerus Nabi shallallahu 'alaihi wasallam

Kedua : Pengkafiran seluruh muslim yang tidak beriman kepada imam-imam mereka. Karena barang siapa yang tidak beriman kepada imam mereka maka berarti telah meninggalkan rukun Islam yang paling utama, yaitu keimaman.

Dari sini maka ikut merayakan perayaan 'Idul Ghodir, atau ikut membenarkan atau membela 'Idul Ghodir, demikian juga ikut mempromosikan 'idul Ghodir merupakan bentuk ikut serta mensukseskan dan melariskan kekufuran !!!.

Membenarkan diadakannya perayaan 'Idul Ghodir di tanah air adalah bentuk pengkhianatan dan penipuan serta penyesatan kepada rakyat muslim Indonesia !!!

Sebaliknya menolak perayaan 'Idul Ghodir merupakan bukti keimanan, dan pembelaan terhadap agama Islam, pembelaan terhadap al-Qur'an, pembelaan terhadap Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam, juga pembelaan terhadap para sahabat yang mulia !!!

Mengenal Qantharah

Qantharah adalah suatu tempat yang berada setelah shirath. Di qantharah, terjadi qishash untuk menghilangkan rasa dendam, hasad dan rasa dengki di antara orang-orang yang beriman.

By Muhammad Saifudin Hakim 28 September 2015

Qantharah, suatu istilah yang mungkin masih asing di telinga kita. Padahal, setiap orang beriman tentu mendambakan diri untuk bisa sampai di qantharah.Bagaimana tidak, qantharah adalah suatu tempat antara surga dan neraka yang dilalui manusia setelah selamat melewatishirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas neraka jahannam. Oleh karena itu, dalam tulisan ini kami akan sedikit membahas tentang qantharah, sehingga siapa pun yang berharap masuk surga, bisa mengenal suatu tempat yang akan dilewatinya, yaitu qantharah.

Hadits tentang "Qantharah"

Setelah orang-orang beriman selamat melewati shirathmereka akan berhenti di suatu tempat bernama "qantharah". Dari Abu Sa'id Al-Khudhri radhiyallahu 'anhu,Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallambersabda,

يَخْلُصُ المُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ، فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الجَنَّةِ وَالنَّارِ، فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا، حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

"Setelah orang-orang beriman diselamatkan dari neraka (selamat melewati shirath, pen.), mereka tertahan di qantharah yang ada di antara surga dan neraka. Maka ditegakkanlah qishash di antara mereka akibat kedzaliman yang terjadi di antara mereka selama berada di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan, mereka pun diijinkan masuk surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mereka lebih mengetahui tempat mereka di surga daripada tempatnya ketika berada di dunia." [1]

Apakah yang Dimaksud dengan"Qantharah" ??

Para ulama berbeda pendapat tentang"qantharah". Sebagian ulama berpendapat bahwa qantharah adalah bagian paling ujung dari shirath sebelum masuk ke surga. Pendapat ke dua menyatakan bahwa qantharah adalah jembatan tersendiri yang berbeda dengan shirath,dan letaknya di antara surga dan neraka.

Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullahberkata,

الذي يظهر أنها طرف الصراط مما يلي الجنة ويحتمل أن تكون من غيره بين الصراط والجنة

"Yang tampak bahwasannya qantharah adalah ujung dari shirath sebelum surga. Dan ada kemungkinan bahwa qantharah adalah jembatan tersendiri antara shirath dan surga." [2]

Di antara ke dua pendapat tersebut, pendapat yang lebih tepat adalah pendapat ke dua, yaitu bahwa qantharahadalah jembatan tersendiri dan tidak termasuk bagian dari shirath. Hal ini karena orang yang selamat melewatishirath, berarti dia telah selamat melewati dan melintasi shirath secara keseluruhan, sebagaimana yang ditunjukkan oleh dalil-dalil yang ada.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Nabishallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

وَيُضْرَبُ الصِّرَاطُ بَيْنَ ظَهْرَيْ جَهَنَّمَ، فَأَكُونُ أَنَا وَأُمَّتِي أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُهَا

"Dan dibentangkanlah shirath di antara dua punggung neraka jahannam. Maka aku dan umatku yang pertama kali melintasinya." [3]

Demikian pula kalau melihat hadits tentang qantharah di atas, maka dijelaskan bahwa orang-orang mukmin telah selamat melewati shirath (secara keseluruhan)[4]

Qishash yang Terjadi ketika Manusia berada di "Qantharah"

Di qantharah, terjadi qishash untuk menghilangkan rasa dendam, hasad dan rasa dengki di antara orang-orang yang beriman. Dan ketika telah bersih, mereka akan masuk ke dalam surga. Allah Ta'alaberfirman,

وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ

"Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan."(QS. Al-Hijr [15]: 47]

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahberkata,"Jika mereka telah melewati shirath, mereka berhenti di qantharah yang berada di antara surga dan neraka. Sebagian mereka pun diqishash atas sebagian yang lain. Ketika telah dibersihkan dan dibebaskan, mereka pun diijinkan untuk masuk ke dalam surga." [5]

Qishash di qantharah berbeda denganqishash yang terjadi di padang Mahsyar. Qishash yang terjadi di padang Mahsyar bersifat umum, terjadi antara orang beriman dan orang kafir, atau antara calon penduduk surga dengan calon penduduk neraka, atau antara sesama calon penduduk neraka. Qishash ini adalahdengan menyerahkan pahala kepadapihak yang didzalimi; dan jika pahalanya sudah habis, maka dosa pihak yang didzalimi akan diserahkan kepada pihakyang mendzalimi. Sedangkan qishash diqantharah hanya terjadi di antara orang beriman (setelah mereka selamat melewati shirath) untuk menyucikan hati mereka sebelum masuk ke dalam surga.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaiminrahimahullah menjelaskan,

فإذا وصلوا إلى الجنة لم يجدوها مفتوحة الأبواب، على خلاف أهل النار، فإنهم إذا وصلوا إلى النار فتحت الأبواب ليسوءهم العذاب والعياذ بالله، أما الجنة فلا تكون مفتوحة الأبواب، وإنما يوقفون هناك على قنطرة، وهي الجسر الصغير فيقتص لبعضهم من بعض اقتصاصاً غير الاقتصاص الأول الذي في عرصات القيامة، فيقتص لبعضهم من بعض اقتصاصاً يزيل ما في صدورهم من الغل والحقد؛ لأن الاقتصاص الذي في عرصات القيامة اقتصاص تؤخذ فيه الحقوق، وربما يبقى في النفوس ما يبقى، لكن هذا الأخير اقتصاص للتطهير والتهذيب والتنقية، حتى يدخلوا الجنة وما في صدورهم من غل.

"Jika mereka sampai ke surga, pintu surga masih tertutup. Berbeda dengan penduduk neraka. Ketika mereka sampai di neraka, pintu neraka dibuka sehingga mereka langsung merasakan adzab. Adapun surga, maka pintunya masih tertutup. Mereka menunggu di qantharah, yaitu suatu jembatan yang kecil. Sebagian mereka pun diqishash atas sebagian yang lain, dengan qishash yang berbeda dengan qishash yang pertama terjadi di padang Mahsyar. Mereka diqishash untuk menghilangkan rasa dendam dan rasa dengki. Hal ini karena qishash yang terjadi di padang Mahsyar bertujuan untuk mengembalikan hak (yang didzalimi atau dirampas, pen.), dan terkadang masih tersisa rasa (dendam) di hati. Qishash yang ke dua ini adalah qishash untuk mensucikan dan membersihkan (apa yang ada di dalam hati), sehingga mereka pun masuk surga tanpa ada rasa dengki dalam hati mereka." [6]

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaiminrahimahullah melanjutkan penjelasan beliau,

وبهذا نجمع بين النصوص الواردة بأن هنا اقتصاصين، الاقتصاص الأول في العرصات ويقصد منه أخذ الحقوق، وهذا الاقتصاص الأخير والمقصود به التنقية والتطهير من الغل.

فإن قال قائل: أفلا يحصل ذلك بأخذ الحقوق؟ قلنا: لا، فلو أن رجلاً اعتدى عليك في الدنيا ثم أخذت حقك منه، فإنه قد يزول ما في قلبك عليه وقد لا يزول، فإحتمال أنه لا يزول وارد، لكن إذا هذبوا ونقوا بعد عبور الصراط ودخلوا الجنة على إكمال حال، قال تعالى: (وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ إِخْوَاناً عَلَى سُرُرٍ مُتَقَابِلِينَ) (الحجر: 47)

"Dengan demikian, kita gabungkan dalil-dalil yang ada bahwa terdapat dua qishash. Qishash pertama terjadi di padang Mahsyar dan dimaksudkan untuk mengembalikan hak (pihak yang didzalimi, pen.). Qishash yang ke dua (di qantharah) ini dimaksudkan untuk membersihkan dan mensucikan (hati) dari rasa dendam. Jika ada yang bertanya, bukankah hilangnya dendam sudah terwujud dengan dikembalikannya hak? Kami katakan, tidak. Seandainya ada seseorang di dunia yang merampas hakmu, kemudian Engkau mengambil kembali hakmu dari orang tersebut, maka terkadang hilanglah apa yang ada dalam hatimu (misalnya rasa dendam atau dengki, pen.) dan terkadang tidak hilang. Maka ada kemungkinan bahwa belum hilang (rasa dendam tersebut, pen.). Akan tetapi, jika rasa dendam ini dibersihkan dan dihilangkan, maka mereka pun masuk surga dalam keadaan yang sempurna. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya), 'Dan kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.'" [7]

Alhamdulillahilladzi bi ni'matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu 'ala nabiyyina Muhammad wa 'ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Diselesaikan setelah isya', Sint-Jobskade Rotterdam NL, Jumat 11 Dzulhijah 1436

Yang senantiasa membutuhkan rahmat dan ampunan Rabb-nya,

Penulis: M. Saifudin Hakim

___

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 6535.

[2] Fathul Baari, 5/96.

[3] HR. Bukhari no. 806.

[4] Al-Imaan bimaa Ba'dal Maut, hal. 250-251.

[5] Majmu' Fataawa, 3/147.

[6] Syarh Al-'Aqidah As-Safariyaniyyah,1/477 (Maktabah Syamilah).

[7] Syarh Al-'Aqidah As-Safariyaniyyah,1/477 (Maktabah Syamilah

Kamis, 24 September 2015

Akhlak Dalam Islam Dan Macam Macamnya

Akhlak atau tingkah laku tidak terlepas dari kehidupan manusia. Ada akhlak yang disebut dengan akhlakul karimah atau akhlak terpuji dan ada pula akhlak tercela atau akhlak yang buruk.
Setiap manusia berperangai baik atau buruk tergantung dirinya sendiri, karena yang menggerakkan kesemua itu adalah diri sendiri dan benar-benar berasal dari hati nurani tanpa ada pemikiran yang matang.
Semoga kita senantiasa tergolong orang-orang yang berakhlakul karimah dan menjauhi akhlak yang tercela karena selain dosa, akhlak tercela sangat merugikan orang lain.

Pembagian Akhlak Dalam Islam

Ada 2 pembagian akhlak yaitu akhlak mahmudah dan akhlak madzmumah. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Akhlak Mahmudah /Karimah

Yakni akhlak terpuji atau akhlak yang baik.
Contohnya : pemaaf, sabar, ikhlas, menepati janji, qonaah, jujur, penyayang, pemurah, baik hati, husnudzon dan lain sebagainya.
Dimana akhlak mahmudah ini semuanya membawa kebaikan dan tidak merugikan orang lain. Karena setiap akhlak terpuji ini telah ada tuntunan dan ajarannya baik dalam Al-Qur'an ataupun Hadits nabi. Dari Imam Malik berkata "setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak islam ialah malu".
Malu merupakan dasar akhlak manusia, karena dengan memiliki rasa malu pada Allah SWT maka akan takut untuk melakukan perbuatan-perbuatan tercela dan keji.

Akhlak Madzmumah

Yakni akhlak tercela atau perbuatan yang buruk. Contohnya : 

Riya' : Beramal atau melakukan suatu perbuatan baik dengan niat untuk dilihat orang atau mendapat pujian orang, dengan kata lain riya' sama artinya dengan pamer.Sum'ah :  Melakukan perbuatan atau berkata sesuatu agar didengar oleh orang lain dengan maksud agar namanya dikenal.Ujub : Mengagumi diri sendiriTakabur : Membanggakan diri sendiri karena merasa dirinya jauh lebih hebat dibandingkan orang lain.Tamak : Serakah atau rakus terhadap apa yang ingin dimiliki.Malas : Enggan melakukan sesuatu.  Fitnah : Mengatakan sesuatu yang bukan sebenarnya. Memfitnah merupakan salah satu dosa yang sangat dilarang oleh agama karena fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.Bakhil : pelit, medit dan tidak suka membagi atau memberikan sesuatu yang dimiliki pada orang lain

Minggu, 20 September 2015

Celaka Gara Gara Ucapan


Manusian sebagai mahluk yang bersosialisasi, maka dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak akan lepas dengan apa yang namanya lisan atau ucapan.

Tapi perlu diketahui bahwa dari lisan atau ucapan manusia inilah suatu tatanan masyarakat menjadi kehidupan yg damai, nyaman dan harmonis dan bisa juga menjadi chaos tidak nyaman dan meresahkan, bahkan dengan lisan atau ucapan seorang teman bisa menjadi musuh yang saling membunuh.

Sebagai mana kejadian yang baru2 ini terjadi seorang bocah gara gara saling ledek dibunuh oleh temannya sendiri.

Dan masih banyak lagi kejadian yang besar seperti permusuhan antar kampung, suku atau antar negara karena lisan.

Oleh karenanya Allah subhana wata'ala melalui lisan nabinya memerintahkan untuk menjaga lisan kita, untuk berbicara hanya yang baik atau diam. Sebagaimana dalam sabdanya:

"Man kaana yu'minu billahi wal yawmil aakhiri fal yaqul khairan aw liyasmut. 
Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka berkatalah yang baik atau diamlah." (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain dikatakan
Dari Abu Abdur Rahman yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani ra. bahwasannya Rosululloh Muhammad saw bersabda:
"........ Dan sesungguhnya seseorang itu niscayalah berkata dengan suatu perkataan dari apa-apa yang menjadikan kemurkaan Allah, ia tidak mengira bahwa perkataan itu akan mencapai suatu tingkat yang dapat dicapainya, lalu Allah mencatatkan untuknya bahwa ia akan memperoleh kemurkaan-Nya sampai pada hari ia menemui-Nya."
(Diriwayatkan oleh Malik dalam kitab Al-Muwaththa' dan juga oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahwa ini adalah Hadits hasan shohih)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya ia mendengar Rosululloh Muhammad saw bersabda:
"Sesungguhnya seseorang hamba itu niscayalah berbicara dengan suatu perkataan yang tidak ia fikirkan - baik atau buruknya -, maka dengan sebab perkataannya itu ia dapat tergelincir ke neraka yang jaraknya lebih jauh daripada jarak antara sudut timur dan sudut barat." (Muttafaq 'alaih).

Masih banyak hadits hadits lain tentang bahaya lisan yg apabila tidak digunakan dengan benar, akan membawa kita ke kenistaan. 
Kehinaan serta musibah baik di dunia maupun akherat.

Oleh karenanya akan masihkah kita mengumbar lisan kita dengan perkataan yg tak bermanfaat, ngobrol dan bercanda berlarut larut yang tak berguna, yang pada akhirnya akan menjurus pada gibah dan fitnah.

Tidakkah kita tahu bahwa "tidaklah satu kata yg kita ucapkan kecuali dicatat oleh malaikat" yg akan dipertanggung-jawabkan di akherat nanti.

Semoga bermanfaat.
Bekasi. 19 Nov 2015.
Abu Afifah

Sabtu, 19 September 2015

Lebih afdhal kaya atau miskin?

Ada sekelompok sahabat nabi Muhammad saw yang mengungkapkan kesedihannya terkait dengan kondisi mereka yang miskin, sehingga mereka tidak dapat berbuat seperti yang dapat diperbuat oleh sahabat nabi yang kaya, kemudian mereka mengadukan kesedihannya kepada Rasulullah shalallahu alaihi wassalam.

Rasulullah saw bersabda:

Diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari ra, bahwasanya para sahabat Rasulullah saw berkata kepada nabi Muhammad saw: "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong banyak pahala, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka!" Rasulullah sawbersabda: "Bukankah Allah swt telah menjadikan untuk kalian sesuatuuntuk kalian bersedekah dengannya? Sesungguhnya, setiap tasbih sedekah, setiap takbir sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) sedekah, dan setiap tahlil (ucapan la ilaha illallah) sedekah, amar ma'ruf sedekah, nahi munkar sedekah, dan pada kemaluan salah seorang kamu terdapat sedekah." Mereka (para sahabat) berkata: "Wahai Rasulullah, adakah jika salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya padanya terdapat pahala baginya?" Rasulullah saw menjawab: "Bagaimana pendapat kalian jika ia meletakkannya di tempat yang haram, adakah ia akan mendapat dosa? Demikian pula jika ia meletakkannya pada yang halal, maka terdapat pahala untuknya." (HR Muslim)

Takhrij hadits

Hadits dengan  redaksi seperti ini adalah hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Muslim padakitab az-zakat, bab bayan anna isma ash-shadaqah yaqo'u 'ala kulli ma'rufin, hadits no. 720 (84), 1006 (53).

Dalam redaksi yang berbeda dan melalui sahabat yang berbeda pula (dari Abu Hurairah), diriwayatkan oleh Imam Bukhari pada kitab al-adzan, bab abwab shifat ash-shalah – bab adz-dzikr ba'da ash-shalah, hadits no. 843, 6329.

Redaksi yang berbeda ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, juga diriwayatkan oleh Imam Muslim pada kitab al-masajid wa mawadhi' ash-shalah, bab istihbab adz-dzikri wa bayan shifatihi, hadits no. 595 (142, 143).

Kandungan hadits

Secara garis besar, hadits ini menjelaskan tentang masalah-masalah penting, strategis dan bahkan sensitif, di antaranya adalah:

1. Masalah miskin-kaya.

2. Masalah persaingan dan kompetisi.

3. Cakupan pengertian sedekah secara luas dan dalam.

4. Masalah niat dan tidak niat bagi seorang muslim dalam urusan kesehariannya.

5. Masalah penggunaan qiyas (analogi) dalam berdalil.

Miskin-kaya

Di antara masalah penting dan bahkan sensitif yang disinggung oleh hadits Arba'in yang ke-25 ini adalah masalah miskin-kaya.

Secara garis besar, hadits ini menceritakan bahwa ada sekelompok sahabat nabi Muhammad saw yang mengungkapkan kesedihannya terkait dengan kondisi mereka yang miskin, sehingga mereka tidak dapat berbuat seperti yang dapat diperbuat oleh sahabat nabi yang kaya.

Ada banyak hal menarik untuk dibahas terkait dengan masalah ini, di antaranya adalah:

PertamaGhibthah

Orang-orang miskin dari kalangan para sahabat nabi saw itu bukan iri  terhadap kekayaan para sahabat nabi yang kaya. Bukan pula mengadukan perilaku orang kaya yang tidak mau membantu mereka dan melupakan kewajiban mereka kepada orang miskin, akan tetapi, orang-orang miskin itu "iri" (baca: dalam tanda petik) karena peluang pahala orang kaya lebih besar daripada pahala orang miskin.

"Iri" seperti ini dalam bahasa syari'ah tidak disebut hasad (iri dalam konotasi negatif), akan tetapi, "iri" yang seperti ini disebut dengan istilah ghibthah (iri dalam konotasi positif).

Untuk memudahkan perbedaan diantara keduanya, dapat dijelaskan sebagai berikut:

Hasad adalah iri, di mana pihak yang iri berangan-angan atau bahkan berusaha menghilangkan kenikmatan dari pihak yang "diiri", sedangkan ghibthah adalah "iri" di mana pihak yang iri tidak ada angan-angan atau usaha menghilangkan kenikmatan pihak yang diiri, ia hanya berangan-angan dan berusaha mencapai prestasi yang diraih oleh pihak yang diiri.

Ghibthah dibenarkan oleh Islam.

Rasulullah saw. bersabda: "Tidak ada hasad(dalam arti ghibthah) kecuali dalam dua perkara;

1. Terhadap seorang lelaki yang oleh Allah swtdiberi harta, lalu ia "menghabiskannya"dalam al-haq (kebenaran).

2. Terhadap seorang lelaki yang diberi hikmah oleh Allah swt. lalu ia menunaikan hak-hak hikmah itu dan mengajarkannya kepada orang lain". (Hadits shahih muttafaqun 'alaih, lihat: al-lu'lu' wal marjan fima ittafaqa 'alaihi asy-syaikhan, hadits no. 467).

Termasuk juga "iri" para sahabat nabi yang miskin terhadap para sahabat nabi yang kaya dalam hal keinginan mendapatkan pahala yang sebanyak-banyaknya, sebagaimana diceritakan dalam hadits ini.

Kedua: Kesedihan yang positif

Hadits Arba'in yang ke-25 ini juga menggambarkan tentang kesedihan para sahabat nabi yang miskin saat berhadapan dengan kenyataan bahwa mereka tidak dapat melakukan banyak hal dikarenakan kemiskinan mereka.

Kesedihan dan bahkan tangis serta air mata seperti ini juga dibenarkan dan dipuji oleh Allah swt selama tidak sampai ke tingkat putus asa dan atau menentang kehendak dan takdir Allah. Allah swt berfirman,"Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan (untuk berangkat perang Tabuk), lalu kamu berkata: 'Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu', lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan." (QS At-Taubah: 92).

Ketiga: Kompetisi yang indah

Hadits ini juga menceritakan satu potret masyarakat yang berkompetisi dan bersaing di antara sesama mereka. Kompetisi yang mereka lakukan bukan saja kompetisi yang baik, namun juga indah.

Kita lihat bahwa para sahabat nabi yang miskin, ingin "mengalahkan" para sahabat nabi yang kaya, tetapi semangat "menggalahkan" dalam hal mendapatkan pahala di sisi Allah swt.

Dan sebagai kompetitor, para sahabat nabi yang kaya pun tidak mau "kalah" dan "mengalah" dalam menghadapi persaingan para sahabat nabi yang miskin. Caranya, setiap peluang amal shalih yang ditawarkan oleh nabi Muhammad saw kepada orang-orang miskin, mereka juga tidak mau ketinggalan dan ikut pula mengamalkan apa yang diamalkan oleh orang-orang miskin.

Sungguh, sebuah kompetisi yang sehat, indah dan menarik, radhiyallahu 'anhum ajma'in.

Keempat: Bercita-cita atau berangan menjadikaya

Bolehkah seseorang berangan-angan atau bercita-cita menjadi kaya, atau minimal berangan-angan memiliki harta?

Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini, mari kita simak hadits berikut:

Perumpamaan umat ini seperti empat orang:

1. Seorang lelaki yang oleh Allah swt diberi harta dan ilmu, lalu ia mengamalkan ilmunya dalam hartanya, ia menginfakkannya pada hak harta itu.

2. Dan seorang lelaki yang diberi ilmu oleh Allah swt dan tidak diberi harta, lalu ia berkata: kalau saja saya memiliki seperti yang dimiliki orang ini (orang pertama), niscaya saya akan perbuat pada harta itu seperti yang diperbuat olehnya.

Rasulullah sawbersabda"dua orang ini mendapatkan pahala sama."

3. Dan seorang lelaki yang diberi harta oleh Allah dan tidak diberi ilmu, lalu ia berbuat sekehendaknya dalam hartanya, ia membelanjakannya bukan pada haknya,

4. Dan seorang lelaki yang tidak diberi ilmu dan harta (sekaligus), lalu ia berkata: kalau saja saya mempunyai seperti yang dimiliki oleh orang ini (orang ke-3), niscaya saya akan berbuat seperti yang ia perbuat.

Rasulullah sawbersabda: dua orang ini (3 dan 4) mendapatkan dosa sama. (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, lihat: Shahih wa Dha'if Sunan Ibn Majah, hadits no. 4228).

Lebih afdhal kaya atau miskin?

Saat mengulas hadits ini, Al-Hafizh Ibn Hajar al-Asqalani (773 – 852 H = 1372 – 1449 M), dengan mengutip dari Ibnu Baththal (w. 449 H = 1057 M)  memasukkan satu pembahasan tentang pertanyaan ini.

Kata beliau: panjang sekali perbedaan pendapat para ulama' dalam masalah ini (Fathul Bari, XI/278 – 281).

Namun, pada akhirnya beliau berkesimpulan, "Klaim bahwa sebagian besar para sahabat nabi dalam keadaan menyedikitkan harta dan zuhud terbantah oleh post yang masyhur tentang keadaan mereka …" (Fathul Bari XI/280).

Yang dimaksud dengan keadaan yang masyhur dari para sahabat nabi adalah bahwa mereka setelah era futuhat kebanyakan dalam keadaan kaya disertai dengan taqarrub kepada Allah swt dan tetap menjaga ghinan-nafs (kaya jiwa), sedangkan yang menyedikitkan harta dan zuhud dibandingkan dengan yang kaya adalah minoritas para sahabat nabi saw. (Fathul BariXI/280).

Seorang ulama kontemporer yang sangat terkenal, Prof. DR. Yusuf Al-Qaradhawi juga lebiih cenderung kepada pendapat yang mengutamakan kaya atas miskin.

Terkait hal ini beliau berkata, "Dari sini jelas bagi kita bahwa pemikirann yang tumbuh di kalangan tasawuf yang mengagungkan kefakiran dan menyambutnya secara gegap gempita, serta secara mutlak mencela kaya dan menakut-nakutinya, tidak lain adalah pemikiran yang dilontarkan oleh filsafat Manawiyah dari Persia, doktrin tasawuf Hindu, dan ajaran Rahbaniyah Kristen. Pemikiran ini, bagaimanapun keadaannya adalah pemikiran asing yang menyusup ke dalam Islam." (lihatFiqih az-Zakat, II/874).