Sabtu, 13 Februari 2016

Kesombongan Menghalangi Hidayah

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam mengabarkan bahwa kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga.

Pembaca yang budiman, a'azzaniyallahu wa iyyakum, Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam mengabarkan dalam sebuah hadits bahwa tidak akan masuk surga orang yang ada di dalam hatinya terdapat kesombongan.

Beliau Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "tidak akan masuk surga, orang yang ada di dalam hatinya sebesar biji sawi kesombongan".

Lalu ada seorang lelaki dari sahabat RasulullahShallallahu'alaihi Wasallam berkata: "wahai Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus, demikian pula sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan wahai Rasulullah?". Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallambersabda: 'Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan. Adapun kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR. Muslim, no.91).

Dalam hadits ini RasulullahShallallahu'alaihi Wasallam mengabarkan bahwa kesombongan menghalangi seseorang untuk masuk ke dalam surga. Dan Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam juga menjelaskan hakikat kesombongan, bahwa kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh manusia.
Ketika suatu kebenaran telah sampai kepada seseorang, berupa Al Qur'an dan hadits Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam, kemudian ia menolaknya karena kelebihan yang ia miliki atau kedudukan yang ia miliki. Maka ini menunjukkan adanya kesombongan dalam dirinya.

Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallammengatakan, sombong itu menolak kebenaran, dan kebenaran itu adalah apa yang datang dari Allah Subhanahu wa Ta'ala, berupa Al Qur'an dan hadits NabiShallallahu'alaihi Wasallam. Betapa banyak kesombongan yang menyebabkan seseorang terhalang dari kebenaran.
Lihatlah iblis la'nathullah, ia tidak mau sujud kepada Nabi Adam 'alaihissalam karena kesombongan yang ada dalam hatinya. Allah Ta'ala berfirman: "ia enggan dan sombong sehingga ia pun termasuk orang-orang kafir" (QS. Al Baqarah: 34).
Lihatlah Fir'aun, ia merasa sombong dengan kelebihannya, ia merasa sombong dengan kedudukan yang ia miliki. Sehingga ia menolak dakwah yang disampaikan Nabi Musa 'alaihisshalatu was salam. "Kami utus Musa dan Harun kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya, dengan (membawa) tanda-tanda (mukjizat-mukjizat) Kami, maka mereka menyombongkan diri dan mereka adalah orang-orang yang berdosa" (QS. Yunus: 75).
Maka lihatlah wahai saudaraku, orang yang bersombong diri biasanya ia tidak bisa mendapatkan hidayah dari Allah Subhaanahu wa Ta'ala.

Dan Subhaanallah… dalam hadits ini seorang sahabat bertanya kepada NabiShallallahu'alaihi Wasallam, "wahai Rasulullah, salah seorang dari kami ingin agar bajunya bagus, demikian pula sandalnya bagus, apakah itu termasuk kesombongan?". Maka Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam seakan mengatakan, "itu bukan kesombongan, Allah itu indah dan mencintai keindahan".
Artinya pakaian yang bagus bukan termasuk kesombongan sama sekali, bahkan itu suatu hal yang dicintai oleh Allah karena menunjukkan keindahan sebagai suatu nikmat yang diberikan oleh Allah. Bahkan memperlihatkan kenikmatan adalah bentuk rasa syukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah suka melihat tampaknya bekas nikmat Allah pada diri hamba-Nya" (HR. Tirmidzi, no.2819.
Ia berkata: "hasan", dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahih Al Jami').

Akan tetapi kesombongan itu ketika seseorang menolak kebenaran atau ia menganggap remeh orang lain. Baik karena orang yang ia remehkan itu miskin atau ia lebih rendah derajatnya dalam masalah ilmu dan amalan shalih. Saudaraku, dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "cukuplah bagi seseorang itu keburukan, ia menganggap remeh Muslim yang lain" (HR. Muslim, no.2564).

Terkadang misalnya kita orang yang memiliki kekayaan, dan punya kelebihan. Ketika kita melihat orang miskin yang tidak punya kekayaan, kita pandang dia dengan pandangan yang remeh sekali. Ini lah bentuk meremehkan orang. Atau misalnya orang yang memiliki kedudukan, mungkin Bupati, presiden, atau camat, ketika melihat orang biasa atau rakyat jelata ia merasa dirinya punya kelebihan, lalu ia pun bersombong diri. Atau misalnya kita diberi kelebihan berupa amalan shalih, terkadang ketika melihat orang yang amalan shalihnya kurang, kita merasa memiliki kelebihan dan melecehkan dia. Terkadang juga kita merasa punya kelebihan ilmu dan harta banyak sedekah baik dengan ilmunya atau hartanya, punya titel yang tinggi, ketika melihat orang yang lebih rendah titelnya lebih sedikit ilmunya lebih sedikit amal dan sedekah nya, dalam diri kita terasa ada sesuatu perasaan lebih baik dari dia. Inilah sebenarnya benih-benih kesombongan.

Terlebih ketika ada orang yang menasehati atau memberikan saran kepada kita adalah orang yang lebih muda lebih miskin dari kita atau orang yang tidak lebih berilmu dari kita.
Terkadang kesombongan dan keangkuhan muncul di hati kita sehingga kita enggan untuk menerima nasehat-nasehatnya. Ini juga merupakan fenomena kesombongan.
Dan bukankah seorang Mukmin yang sejati itu senantiasa menerima nasehat?
AllahTa'ala berfirman (yang artinya): "Berilah peringatan! Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman" (QS. Adz Dzariyat: 55).

Dan subhaanallah, ini sangat menakutkan sekali. Karena Nabi Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda: "tidak akan masuk surga, orang yang ada di dalam hatinya sebesar biji sawi kesombongan". Hanya sebesar biji sawi dari kesombongan, ternyata menyebabkan kita tidak masuk surga.

Ikhwati fillah rahimaniy wa rahimakumullah, sudah menjadi kewajiban kita untuk menyadari bahwa apa yang Allah berikan kepada kita berupa kelebihan-kelebihan baik itu kekayaan, kedudukan, hakikatnya adalah pemberian dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Orang kaya hendaknya sadar, kekayaan itu datangnya dari Allah. Orang yang mempunyai kedudukan hendaknya sadar, bahwa kedudukan itu adalah amanah di sisi Allah yang akan dimintai pertanggung-jawabannya. Bukan untuk disombongkan sama sekali.
Orang yang berilmu segera sadar bahwa ilmunya itu bukan untuk disombongkan, tapi untuk menjadikan ia lebih tawadhu dan lebih takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Orang yang beramal shalih, banyaknya amal shalih, bukan untuk dibanggakan dan disombongkan. Akan tetapi untuk membuat ia lebih dekat kepada Allah.

Maka, saudaraku a'azzaniyallah waiyyakum, orang yang sombong itu pada hakikatnya tidak menyadari jati dirinya, tidak menyadari siapa dia sebenarnya. Bahwa dia hakikatnya adalah seorang hamba, hamba yang tidak punya dan tidak memiliki apa-apa. Dia faqir kepada Allah, faqir kepada rahmat-Nya dan karunia-Nya.
Lalu untuk apa ia menyombongkan diri dengan segala kelebihannya sementara pada hakikatnya ia tidak memiliki apapun.
Allah ta'ala berfirman (yang artinya), "Wahai umat manusia! Kalian adalah fakir kepada Allah. Adapun Allah, maka Dia Maha Kaya lagi Maha Terpuji" (QS. Fathir: 15).

Saudaraku, terkadang penting sekali untuk melihat bagaimana pemberian Allah kepada kita dan kekuasaan Allah yang berikan kepada kita. Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan alam semesta yang begitu luar biasa, keindahan alam yang luar biasa, semua itu milik Allah. Allah menciptakan tubuh kita dengan bentuk yang indah, Allah Subhanahu wa Ta'ala sediakan bagi kita berbagai macam harta dan kebutuhan, jika seorang hamba menyadari semua ini saya yakin ia akan ber-tawadhu' (rendah diri). Dan tawadhu' itu adalah akhlak yang sangat agung. Allah Ta'ala berfirman (yang artinya): "Ibadurrahman adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati (tawadhu') dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik." (QS. Al Furqaan: 63). Dan Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallambersabda: "tidaklah salah seorang di antara kalian ber-tawadhu kecuali Allah akan meninggikannya derajatnya" (HR. Muslim, no.2588).

Bahkan manusia sendiri pun tidak suka kepada orang yang sombong. Ketika kita melihat ada orang yang angkuh, pasti kita tidak suka. Tapi ketika kita melihat orang yang tawadhu, yang tidak menonjolkan kelebihannya di hadapan orang, bahkan ia merasa takut kalau Allah mengadzabnya sekonyong-konyong, itu adalah orang yang Allah jadikan kecintaan kepada dia di hati-hati para hamba karena sikap tawadhu'-nya tersebut.

Maka dari itu saudaraku, jika kita diberi Allah Subhanahu wa Ta'ala kelebihan, berhati-hatilah. Segera introspeksi diri, segera periksa hati kita. Kalau AllahSubhanahu wa Ta'ala memberikan kepada kita kekayaan, kedudukan, atau kelebihan dalam beramal shalih, segera periksa hati kita jangan sampai itu menimbulkan kesombongan yang menyebabkan kita terhalang masuk ke dalam surga.

Washalatu wassalamu 'ala nabiyyina Muhammadin wa 'ala alihi wa shahbihi ajmain.

***

Ust. Badrusalam, Lc., dinukil dari buletin Al Hikmah edisi 3-27, yang diterbitkan Radio Rodja

Artikel Muslim.or.id

Selasa, 02 Februari 2016

BERUNTUNGLAH MENJADI ORANG TAK DIKENAL

Banyak kisah para salaf yang bermunajat memuja Rab mereka, menjadikan tetesan air mata sebagai kalimat doa.
Ada pula yang berderma tanpa berharap satu pun lirik mata.
Mereka lebih senang tak dikenal dan disanjug.
Walaupun mereka pemilik amalan yang agung.

Berbeda dengan pandangan khalayak masa kini.
Bekerja dalam diam dinilai tidak berkontribusi.
Popularitas merupakan sebuah harga.
Penghargaan dan penghormatan adalah kebanggaan.
Pujian adalah harapan.

Salah seorang ulama besar generasi tabiut tabi'in, Abdullah bin al-Mubarak, mengatakan tidak dikenal dan tidak disanjung adalah kehidupan.
Menjadi biasa di mata manusia adalah harapan.

Salah seorang murid beliau, Hasan bin Rabi', bercerita, "Suatu hari, aku bersama Ibnul Mubarak menuju tempat minum umum. Orang-orang (mengantri) minum dari tempat tersebut. Lalu Ibnul Mubarak mendekat ke tempat peminuman umum itu, tidak ada orang yang mengenalinya. Mereka memepet-mepet bahkan mendorong-dorongnya.

Ketika keluar dari desak-desakan tersebut, Ibnul Mubarak berkata, 'Yang seperti inilah baru namanya hidup. Ketika orang tidak mengenalmu dan tidak mengagung-agungkanmu'." (Shifatu Shafwah, 4/135).

Mungkin Anda adalah seorang aktivis yang dihargai di rantau. Menjadi pembicara di mimbar dan memimpin jamaah shalat. Mewakili universitas atau bahkan delegasi negara. Saat pulang, Anda dianggap biasa. Tidak memiliki keistimewaan di masyarakat. Maka nikmatilah keadaan tersebut. Karena itulah hakikat hidup.

Bila masa Abdullah bin Mas'ud radhiallahu 'anhu keluar dari rumahnya. Lalu orang-orang mengikutinya. Lalu beliau bertanya, "Apakah kalian ada keperluan?" Mereka menjawab, "Tidak ada. Kami hanya ingin berjalan bersamamu". Ibnu Mas'ud menegur mereka, "Pulanglah (jangan ikuti aku). Yang demikian itu kehinaan bagi yang mengikuti dan fitnah (ujian ketenaran) bagi yang diikuti". (Shifatu Shafwah, 1/406).

Diikuti masa dan ditempeli teman kesana kemari dapat mengeraskan hati. Manusia bisa merasa bernilai luar biasa, padahal di sisi Allah dia bukanlah siapa-siapa.

Jangan berobsesi menjadi terkenal karena ilmu dan amal. Kalau bisa memiliki peranan dan tidak dikenal, maka itu lebih bernilai. Bukanlah manusia tempat kita berharap balasan. Akan tetapi apa yang ada di sisi Allah ﷻ lah yang terbaik.

Sumber:
– al-Jalil, Abdul Aziz bin Nashir. 1994. Aina Nahnu min Akhlaq as-Salaf. Riyadh: Dar at-Thayyibah.

Oleh Nurfitri Hadi
Sumber Artikel : KisahMuslim .com

Sabtu, 30 Januari 2016

Kaedah Interaksi Sesama

Oleh Ustadz:
Muhammad Abduh Tuasikal, MSc

Ada beberapa kaedah yang bisa kami sarikan dari para ulama tentang kaedah berinteraksi atau bergaul atau menyikapi orang lain.

Kaedah pertama dari Imam Al-Ghazali,

وَحُسْنُ الخُلُقِ بِالناس هُوَ أَلاَّ تَحْمِلُ النَّاسَ عَلَى مُرَادِ نَفْسِكَ بَلْ تَحْمِلُ عَلَى مُرَادِهِمْ مَا لَمْ يُخَالِفِ الشَّرْعَ

"Cara berakhak terhadap sesama adalah memperlakukan orang lain bukan distandarkan pada keinginan kita, namun distandarkan pada keinginan mereka selama tidak menyelisihi syari'at." (Ayyuhal Walad, hlm. 63)

Contoh: Apa standar makanan yang diberikan pada tamu kita? Tergantung pada tamu tersebut. Siapa tahu tamu yang kita layani punya pantangan pada makanan tertentu yang tidak cocok dengan daerah kita, maka pantangannya tadi jangan diberi. Sehingga memberikan sajian makan –misalnya- bukan pakai standar kita, namun standar siapa yang kita layani.

 

Kaedah kedua,

تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ تَبْعاً لاِخْتِلاَفِ العَلاَقَةِ: الوالد مع ولده, الزوج مع زوجته, الرئيس مع مرؤوسه, والعكس

"Cara interaksi berbeda-beda tergantung pada status hubungan. Sehingga berbeda cara interaksi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri, antara kepala negara dan rakyatnya, begitu pula sebaliknya."

 

Kaedah ketiga,

أَنَّ التَّعَامُلَ يَتَغَيَّرُ بِاخْتِلاَفِ الأَفْهَامِ وَالعُقُوْلِ. فَالرَّجُلُ الذَّكِيُّ الفَاهِمُ الوَاعِي تَخْتَلِفُ طَرِيْقَةُ تَعَامُلِهِ عَنِ الشَّخْصِ الآخَرِ المحْدُوْدِ العَقْلِ المحْدُوْدِ الفَهْمِ المحْدُوْدِ العِلْمِ, فَالحَدِيْثُ مَعَهُ يَكُوْنُ مُنَاسِباً لِطَبِيْعَتِهِ وَقُدْرَتِهِ عَلَى الفَهْمِ.

"Berinteraksi melihat pula dari latar belakang pemahaman dan kecerdasan yang tentu berbeda-beda. Beinteraksi dengan orang yang cerdas, mudah paham dan pinar tentu berbeda dengan orang yang logikanya, daya pahamnya dan ilmunya terbatas. Sehingga ketika berbicara pula hendaklah memperhatikan tabi'at dan kemampuan pemahamannya."

 

Kaedah keempat,

يَخْتَلِفُ أُسْلُوْبُ التَّعَامُلِ أَيْضًا بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّةِ. فَطَرِيْقَةُ التَّعَامُلِ مِنْ شَخْصٍ شَكَّاكٍ وَحَسَّاسٍ تَخْتَلِفُ عَنْهَا مَعَ شَخْصٍ سَوِيٍّ, فَالطَّرِيْقَةُ تَخْتَلِفُ بِاخْتِلاَفِ الشَّخْصِيَّاتِ وَالصِّفَاتِ الَّتِي تَكُوْنُ بَارِزَةً فِيْهِمْ.

"Cara berinteraksi pula kadang mesti memandang sifat masing-masing orang. Sifat seseorang ada yang penuh dengan keragu-raguan, ada pula yang begitu sensitif. Seperti itu disikapi berbeda dengan orang yang biasa-biasa saja (berada dalam sifat yang lurus). Sehingga cara interaksi dengannya adalah tergantung apa yang dilihat pada sifat yang nampak pada dirinya

Semoga bernanfaat
Wassalam

Jumat, 15 Januari 2016

Benarkah Masalah Khilafiyah Tidak Perlu Diingkari?

Ust: Muhammad Abduh Tuasikal,

Pernyataan bahwa masalah khilafiyah tidak perlu diingkari tidaklah tepat. Yang tepat kita katakan,

لا إنكار في مسائل الاجتهاد

"Tidak ada pengingkaran dalam masalah ijtihadiyah."

Karena masalah khilafiyah sebenarnya ada dua macam:

1. Masalah yang sudah ada nash (dalil tegas) dari Al Qur'an, hadits dan tidak bisa ditentang, juga terdapat pendukung dari ijma' (kesepakatan para ulama). Jika dalam masalah ini ada orang yang berpendapat keliru yang datang belakangan dan menyelisihi ijma' atau menyelisihi qiyas jalii, maka masalah semacam ini boleh diingkari karena menyelisihi dalil.

2. Masalah yang tidak ada nash (dalil tegas) dari Al Qur'an, hadits, ijma', atauqiyas jalii atau terdapat hadits yang mendukung, akan tetapi diperselisihkan tentang keshahihan hadits tersebut atau hadits tersebut tidak jelas menjelaskan hukum dan bisa dimaknai dengan berbagai pernafsiran. Untuk masalah kedua, perlu adanya ijtihad dan penelitian mendalam tentang hukumnya.

Ibnu Taimiyah berkata, "Masalah ijtihadiyah seperti ini tidak boleh diingkari dengan tangan. Dan tidak boleh seorang pun memaksa untuk mengikuti pendapatnya. Akan tetapi yang dilakukan adalah sampaikanlah hujjah dengan alasan ilmiah. Jika telah terang salah satu dari dua pendapat yang diperselisihkan, ikutilah. Namun untuk pendapat yang lain tidak perlu diingkari (dengan keras)." (Majmu' Al Fatawa, 30: 80)

Contoh Masalah Khilafiyah

Masalah khilafiyah yang sudah ada nash tegas di dalamnya yang masuk dalam kategori pertama di atas yang jelas menyelisihi dalil dan patut diingkari seperti:

1. Mengingkari sifat-sifat Allah yang Allah telah memujinya sendiri dan telah ditetapkan pula oleh Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Pengingkaran semacam ini bisa jadi dalam bentuk takwil yaitu memalingkan dari makna sebenarnya yang tidak sejalan dengan Al Qur'an dan hadits.

2. Mengingkari kejadian-kejadian di masa mendatang seperti tanda-tanda kiamat yang telah dikabarkan oleh Nabishallallahu 'alaihi wa sallam. Contohnya mengingkari munculnya Dajjal dan turunnya Nabi Isa di akhir zaman.

3. Bolehnya memanfaatkan riba bank padahal riba telah jelas diharamkan.

4. Membolehkan nikah tanpa wali.

5. Membolehkan alat musik padahal termasuk kemungkaran sebagai disebutkan dalam dalil Al Qur'an dan hadits. Bahkan para ulama empat madzhab telah sepakat akan haramnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

وَلَمْ يَذْكُرْ أَحَدٌ مِنْ أَتْبَاعِ الْأَئِمَّةِ فِي آلَاتِ اللَّهْوِ نِزَاعًا

"Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik." (Majmu' Al Fatawa, 11: 576-577)

6. Menyatakan tidak dianjurkan shalat istisqo' (minta hujan) padahal telah terdapat dalil dalam Bukhari dan Muslim, juga yang lainnya yang menunjukkan perbuatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallamm dan para sahabatnya untuk melaksanakan shalat tersebut.

7. Pendapat yang menyatakan tidak dianjurkannya puasa enam hari di bulan Syawal setelah melaksanakan puasa Ramadhan.

Masalah yang masih masuk ranah ijtihad yang boleh kita toleran dalam masalah ini seperti:

1. Perselisihan mengenai apakah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat Allah di dunia.

2. Perselisihan apakah si mayit bisa mendengar pembicaraan orang yang masih hidup ataukah tidak.

3. Batalnya wudhu karena menyentuh kemaluan, menyentuh wanita atau sebab makan daging unta.

4. Qunut shubuh yang dibacakan setiap harinya.

5. Qunut witir apakah dibaca sebelum ruku' atau sesudahnya.

Syaikh Sholeh Al Munajjid berkata, "Masalah ini dan semisalnya yang tidak ada nash tegas di dalamnya yang menjelaskan hukumnya, maka tidak perlu diingkari dengan keras jika ada yang menyelisihi selama ia mengikuti salah satu ulama terkemuka dan ia yakin itu benar. Akan tetapi tidak boleh seorang pun mengambil suatu pendapat ulama seenak hawa nafsunya saja. Karena jika melakukan seperti ini, ia berarti telah mengumpulkan seluruh kejelekan.

Jika dikatakan tidak perlu mengingkari dengan keras pada orang yang menyelisihi dalam masalah ijtihadiyah, bukan berarti masalah tersebut tidak perlu dibahas atau tidak perlu dijelaskan manakah pendapat yang lebih kuat (rojih). Bahkan ulama dahulu hingga saat ini telah membahas masalah ijtihadiyah semacam ini. Jika telah jelas manakah pendapat yang benar, maka hendaklah kita rujuk padanya." (Fatawa Al Islam Sual wal Jawab no. 70491)

Penjelasan Para Ulama

Ibnu Taimiyah berkata, "Jika ada yang mengatakan bahwa masalah khilaf tidak perlu diingkari, maka itu tidaklah benar jika melihat dari sisi ucapan yang dihukumi atau amalan. Jika ada ucapan yang menyelisihi ajaran Rasul atau menyelisihi ijma' (kesepakatan para ulama), maka wajib mengingkarinya. Jika masalah tersebut tidak disepakati, maka boleh mengingkari untuk menjelaskan bahwa pendapat tersebut lemah dan menyebutkan pendapat yang benar dari ulama salaf atau para fuqoha'. Adapun jika ada amalan yang menyelisihi ajaran Rasul atau menyelisihi ijma', maka wajib mengingkarinya tergantung pada bentuk kemungkarannya. … Adapun jika dalam suatu permasalahan tidak ditunjukkan dalil yang tegas, juga tidak ada ijma', maka berijtihad ketika itu dibolehkan dan tidak perlu orang yang berijtihad dan yang mengikuti diingkari dengan keras. … Dalam masalah ijtihad ini selama tidak ada dalil yang tegas tidak perlu sampai mencela para mujtahid yang menyelisihinya seperti dalam permasalahan yang masih diselisihi para salaf." (Majmu' Al Fatawa, 9: 112-113)

Imam Nawawi rahimahullah berkata, "Masalah khilaf sudah terjadi di antara para sahabat, tabi'in dan ulama sesudah mereka –radhiyallahu 'anhum ajma'in-. Hal seperti ini tidak perlu diingkari. Demikian mereka juga berkata bahwa tidak boleh bagi seorang mufti (ahli fatwa) dan tidak pula seorang qodhi (hakim) menentang orang  yang menyelisihinya selama hal itu tidak menyelisihi dalil yang tegas, ijma' (kesepakatan ulama) dan qiyas jalii." (Syarh Muslim, 2: 24)

Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin berkata, "Masalah khilafiyah terbagi menjadi dua macam:

1. Masalah ijtihadiyah yang boleh ada khilaf di dalamnya. Untuk masalah ini tidak boleh mengingkari dengan keras orang yang berijtihad. Adapun untuk orang awam, hendaklah mengikuti pendapat ulama yang ada di negeri masing-masing agar tidak keluar dari pendapat masyarakat yang ada. Karena jika kita katakan pada orang awam, "Ikutilah pendapat apa saja yang kau dapati." Akhirnya seperti ini, umat tidak bersatu.  Oleh karenanya Syaikh 'Abdurrahman As Sa'di rahimahullah berkata,

العوام على مذهب علمائهم

"Madzhab orang awam adalah sesuai dengan ulama mereka."

2. Masalah yang tidak boleh ada perselisihan di dalamnya dan bukan ranah ijtihad. Untuk masalah kedua ini boleh diingkari orang yang menyelisihinya karena tidak ada udzur saat itu." (Liqo' Al Bab Al Maftuh, kaset no. 49)

Kami tutup dengan nasehat bagi orang yang berilmu yang banyak jadi panutan. Imam Malik berkata,

لَيْسَ لِلْفَقِيهِ أَنْ يَحْمِلَ النَّاسَ عَلَى مَذْهَبِهِ

"Tidak boleh bagi seorang faqih (yang berilmu) mengajak manusia pada madzhabnya."  (Majmu' Al Fatawa, 30: 80). Namun ajaklah untuk mengikuti dalil.

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, tengah malam 27 Rajab 1433 H
Reposting from:

Selasa, 12 Januari 2016

JALAN MENUJU KABAHAGIAAN (BAGIAN 2 DARI 5)

Ustadz Firanda Andirja,

بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

Ikhwani fillāh a'āzaniyallāhu wa iyyakum,

Pada kesempatan yang berbahagia ini saya akan menyebutkan beberapa point yang bisa menenangkan hati dan membahagiakan kita dalam menghadapi pernak-pernik kehidupan yang tidak mungkin kita hindari.

Diantaranya:

■ SEBAB PERTAMA | KETAKWAAN KEPADA ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA.

Takwa merupakan kalimat yang kita semua sudah hafal, tapi bukan kalimat yang sederhana, melainkan kalimat yang indah, tinggi dan butuh pembuktian.

Semua orang bisa mengucapkannya, tapi bagaimana kita mewujudkan ketakwaan tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla telah menjanjikan:

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا (٣)

"Barangsiapa bertakwa kepada Allāh niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allāh niscaya Allāh akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allāh melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allāh telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu." 

(QS Ath Thālaq: 2-3)

Allāh Subhānahu wa Ta'āla juga berfirman:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." 

(QS An Nahl: 97)

Oleh karenanya, tidak diragukan bahwasanya ketakwaan merupakan sumber kebahagiaan.

Lalu, bagaimana kita meraih ketaqwaan ini?

(Yaitu) Dengan banyak beramal shalih seperti: puasa, baca Al Qurān, shalat malam, bershadaqah. Ini merupakan bukti-bukti takwa.

Dan semua sebab-sebab yang akan saya sebutkan dari hal-hal yang bisa mendatangkan kebahagiaan, dari poin kedua dan seterusnya merupakan rincian dari ketaqwaan (dimana) semuanya kembali kepada ketaqwaan.

Ikhwani fillah a'āzaniyallāhu wa iyyakum,

Diantara perkara yang penting dalam masalah ketakwaan adalah,

● BERIMAN KEPADA TAKDIR ALLĀH SUBHĀNAHU WA TA'ĀLA

Ini adalah perkara yang sangat utama, sangat urgen dalam menghadapi pernak-pernik kehidupan ini; musibah, ujian, kesusah-payahan.

Yang kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam tatakala ditanya oleh malaikat Jibril: "Kabarkanlah kepadaku tentang iman."

Kata Nabi shallallāhu 'alayhi wa sallam: "Engkau beriman kepada Allāh, kepada rasul-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada hari akhirat dan engkau beriman kepada takdir, takdir yang baik maupun yang buruk."

Beriman dengan keyakinan yang pasti bahwasanya segala yang terjadi, yang baik maupun yang buruk, semuanya atas kehendak Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Dan beriman bahwasanya di balik apa yang Allāh tetapkan itu ada hikmah yang mungkin kita tahu ataupun mungkin tidak kita ketahui.

Ikhwani fillah a'āzaniyallāhu wa iyyakum,

Orang yang mudah marah/emosi berarti imannya kepada takdir kurang.

Rukun iman ada enam (rukun ke-6 adalah Beriman Kepada Takdir) dan kita semua sudah hafal. Tetapi bagaimana menerapkan iman kepada takdir tersebut.

Oleh karenanya, sangat sedih tatkala kita melihat ada seseorang yang penampilannya, mā syā Allāh, islami, tetapi kemudian baru ada masalah sedikit lalu langsung ngamuk/marah-marah.

Mana iman kepada takdir? Mana bab tentang bersabar (dalam kitab Tauhid)?

(Karena) Sabar merupakan praktek dari tauhid, sehingga orang yang tidak sabar berarti tauhidnya dipertanyakan, keimanannya kepada takdir dipertanyakan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَعَسَىٰٓ أَن تَكۡرَهُواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ خَيۡرٌ۬ لَّڪُمۡ‌ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّواْ شَيۡـًٔ۬ا وَهُوَ شَرٌّ۬ لَّكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ

"Bisa jadi engkau membenci suatu perkara dan Allāh menjadikan kebaikan yang banyak pada perkara yang kau benci tersebut. Bisa jadi kau membenci sesuatu, ternyata itu lebih baik bagimu. Dan bisa jadi kau mencintai sesuatu, ternyata itu buruk bagimu. Allāh mengetahui dan kalian tidak mengetahui."

(QS Al Baqarah: 216)

Ini perkara yang kelihatannya sepele tapi berpengaruh dalam masalah kebahagiaan.

Orang yang beriman kepada takdir dengan tenang maka dia akan qāna'ah, dia akan menerima apa yang Allāh takdirkan kepada dia; jika terkena musibah maka bersabar, jika mendapatkan kebaikan maka tidak 'ujub.

Yang ini semua berkaitan dengan ketakwaan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذۡنِ ٱللَّهِ‌ۗ وَمَن يُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ يَہۡدِ قَلۡبَهُ ۥ‌ۚ

"Tidak ada suatu musibah yang menimpa, kecuali dengan izin Allāh. Barangsiapa yang beriman kepada Allāh, maka Allāh akan berikan hidayah kepada hatinya."

(QS At Taghābun: 11)

Seorang Salaf (Alqamah) menafsirkan ayat ini mengatakan:

هو الرجل تصيبه المصيبة فيعلم أنها من قضاء الله، فيرضى بها ويسلم

"Yaitu seorang yang terkena musibah, kemudian dia mengetahui bahwasanya musibah tersebut dari sisi Allāh Subhānahu wa Ta'āla, maka dia ridhā dan dia menyerahkan urusannya kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla."

Sebagaimana ketakwaan merupakan sumber dari segala kebahagiaan, maka sebaliknya, maksiat merupakan sumber dari segala kesengsaraan.

Kata Allah Subhānahu wa Ta'āla:

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا

"Barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku (Al Qurān), maka bagi dia kehidupan yang sempit." (QS Thāhā: 124)

⇒ Maka bagi dia kehidupan yang penuh dengan kesulitan, penderitaan (hatinya menderita).

Bisa jadi hartanya banyak, memiliki rumah yang mewah dan luas, akan tetapi hatinya sempit.

Kenapa? Karena maksiat yang dia lakukan.

Allāh Subhānahu wa Ta'āla berfirman:

وَمَآ أَصَـٰبَڪُم مِّن مُّصِيبَةٍ۬ فَبِمَا كَسَبَتۡ أَيۡدِيكُمۡ

"Dan tidak ada satu musibahpun yang menimpa kalian kecuali akibat perbuatan kalian."

(QS Asy Syūrā: 30)

⇒ Artinya, banyak orang yang heran tatkala mereka terkena musibah, mereka mengatakan: "Darimana musibah ini?"

Terkadang orang lupa, "Kenapa saya mendapat musibah? Kenapa saya begini?"

Dia lupa bahwasanya dia terjerumus dalam kemaksiatan, padahal segala maksiat yang dia lakukan merupakan sumber kesengsaraan dalam hatinya.

Bahkan para ulama menyebutkan:

"Bahkan pandangan haram yang kita umbarkan dengan melihat aurat wanita yang tidak halal bagi kita, sengaja kita berlezat-lezat melihat hal yang diharamkan oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla, itu adalah sumber kesengsaraan bagi hati seseorang."

Karenanya Ibnul Qayyim menyebutkan:

"Segala kesedihan, gundah gulana, kekhawatiran yang menimpa hati seseorang, itu merupakan hukuman yang Allāh segerakan bagi seseorang dan merupakan neraka Jahannam yang Allāh segerakan di dunia ini."

Seseorang yang ingin berbahagia, hindarkan kemaksiatan sebisa mungkin, jauhkan kemaksiatan, dan bertakwa kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Karena seluruh kesengsaraan, seluruh kegelisahan hati, kembalinya kepada kemaksiatan yang dilakukan oleh seseorang.
______________________________

Reposting dari Website: 
http://www.bimbinganislam.com